Tampilkan postingan dengan label setitik ungkapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label setitik ungkapan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2016

"DIA"

Ada begitu  banyak pasang mata yang lelah berteman dengan realita.
Ada begitu banyak hati yang mulai lelah berharap.
Ada banyak jari yang mulai enggan berdoa.
Ada begitu banyak telinga - telinga yang kenyang dengan suara - suara yang ada di pikirannya sendiri, bahkan dengan janji.
Ada begitu banyak kaki yang kelelahan karena mereka hanya lari ditempat, tidak menuju kemanapun. Ada begitu banyak tangan yang tak mau lagi mengulurkan bantuan, karena mereka tidak mendapatkan "balasan" yang setimpal.
 Ada begitu banyak air mata yang bosan jatuh sehingga memilih untuk menjadi hati yang angkuh. Ada begitu banyak yang bosan dengan kebenaran.
Ada begitu banyak ruang hatimu tidak sanggup lagi membuka pintu maaf.
Ada yang sudah mulai lelah untuk sampai ke Garis Finis.

Sudah terlalu lama matamu tidak melihat perubahan, lalu menyalahkan keadaan, mengecilkan iman dan akhirnya meragukan "dia".
Sudah terlalu panjang jalan yang kau  tempuh dan tetap tak  kau temui tempat untuk berharap. Hingga akhirnya hatimu mulai rapuh , kakimu pun lumpuh tak ada lagi harapan yang masih utuh.
Ada hati yang tak pernah merasa cukup, ada bibir yang terlalu mudah untuk mengeluh, ada topeng yang selalu kamu pakai agar  hatimu tidak diketahui.
Sudah terlalu lama kamu ikut dalam setiap adegan putaran waktu, namun kamu tak bisa menikmatinya.
Banyak yang telah kau lalui, banyak juga yang tlah kau tangisi.
banyak tanya yang mengudara kenapa harus begini, kenapa harus begitu, kenapa tidak sekarang, kenapa harus sekarang, kenapa harus aku , kenapa bukan yan lain?.

Tak sadarkah bahwa di sebuah perjalanan yang panjang ini ada pelajaran yang ingin "dia" berikan?
Kamu memang sudah melalui banyak hal, tapi bukan berarti kamu harus putar balik dan menetap disana, bukan berarti kamu lari ditempat, bukan berarti kamu harus mencari jalan pintas atau jalan yang terlihat mudah. sadarkah kamu bahwa "dia" adalah penulis skenarionya?

Jangan berhenti, jangan menyerah,jangan putus asa.
Saat kamu merasa lelah, tinggal, tenang dan beristirahatlah di dalam " dia".
Berharaplah sekalipun tidak ada dasar untuk berharap.
Lakukanlah apa yang benar di mata "dia", bukan yang disenangi dunia.
Sekalipun hatimu terasa remuk, percayalah bahwa kamu sedang "dia" bentuk.
Sekalipun banyak perkara yang sukar, kamu diminta untuk tetap tegar.
Segalanya akan baik-baik saja. Percayalah kepada "dia".



Rabu, 07 Mei 2014

Pintu keluar

Sebelum melepasmu aku melampirkan secarik rela. Menutup mata, menutup hati dan bersiap terjun tanpa kamu lagi. Tapi tangan transparan itu membawa lari relaku pergi. Jauh entah ke dunia rahasia mana. Aku berusaha mengejarnya dari selatan sampai utara. Aku tidak bisa menempuhnya. Di sela-sela ketidaktenanganku, kamu justru hadir dan mengepungku dengan siasat baru untuk membiarkanku tetap disitu. Disinilah aku, diruangan tak berpintu.
Mata tersaji dengan dua pilihan saat aku membukanya. Menikmati keindahanmu atau melukai hati jika kalau-kalau kamu bersama dia lagi. Di ruangan tak berpintu ini, aku tak ingin terluka lagi. Jika ingin melukaiku dengan hal-hal yang bersebrangan dengan maunya hati, tolong sediakan pintu lain agar aku bisa keluar untuk menyembuhkan luka. Kalau begini aku entah harus bagaimana. Percik-percik luka mulai menyetrumku dengan luar biasa. Melepasmu adalah hal tersulit, tapi dibiarkan diam di sangkar angan tanpa mendapatkan kepastian juga tak kalah sulit.
Tolong. Tolong beri aku pintu keluar. Meski tak bisa aku menculik hatimu pergi, tolong ijinkan aku menyembuhkan hati sembari menemukan rela. 

Sabtu, 05 April 2014

Cinta ini ibarat KOPI HITAM

Hanya dua kata, tapi mengganggu seisi kepala. Nyawa dari maknanya yang tak seberapa buatmu, begitu menggema di hatiku. Sederhana, malam itu aku bahagia mendengarnya. Terlepas hatimu sudah berpenghuni, untuk kali ini aku berusaha tidak peduli. Berkali-kali aku menghindari arenamu. Berkali-kali aku menjauh, tapi semakin tanganmu mengeratkan pegangan untuk tak melepaskan. Cinta ini seharum wangi kopi, tapi realita tercicip pahit sampai ke nadi. Kerakusanmu akan temu sebenarnya menyenangkan hatiku, tapi tak mengamankan kondisi hati.
Seberapa sering kamu menyelipkan namanya di sela-sela pertemuan kita?Sesering itulah aku terluka. Dan sesering itulah aku menguatkan hati, tanpa tahu hati sudah pecah dan tak bisa direkatkan lagi. Karena kamu adalah obat sekaligus pencipta luka sekaligus. 
Kamu mencintai dia, aku mencintai kamu. Ada yang terlambat dan terasa terlalu cepat. Tentang kebetulan-kebetulan yang menggandeng kita untuk terus bersama, apakah tujuannya? Apakah tujuannya jika menghadirkan dia yang menjepit seluruh mimpi kita untuk berhenti di titik yang entah sementara atau selamanya. Terlambatkah untuk mencuri hatimu? Terlalu cepatkah untuk berhenti berharap bahwa suatu hari kamu bisa kumiliki? Jika waktu bisa berputar ke masa dimana kita hanya sepasang asing, mungkin tak ada yang akan bersaing. Dan mungkin kini kita bukan saling yang bersilang dan berpaling ke lain hati. 
Berjelajahlah dulu, aku masih menunggu tanpa tau titik habisnya daya tahanku. Inginku tak ada, selain memilikimu yang masih berbentuk angan-angan. Semoga semesta mendengar isi hati yang semestinya diutarakan. Aku tahu, mereka sedang mendengarnya.

Rabu, 01 Januari 2014

Ajari

Ajari aku untuk memelukmu lebih lama, sampai aku lupa cara melepaskannya. Ajari aku untuk menyadari bahwa kebahagiaan telah tersedia sesuai porsinya, sebelum kesedihan melahap berpuluh suap. Ajari aku caranya bertahan jika hatimu sudah bersikeras untuk melepaskan. Ajari aku caranya menghafal segala pertanda, jika ‘usai’ atas kita akan segera tiba.
Ajari aku untuk tetap tersenyum disaat pencipta senyumanku pergi menciptakan senyuman untuk orang lain. Ajari aku caranya percaya pada ikrarmu untuk membahagiakanku. Karena nyatanya, tindakanmu selalu terbentur oleh dia. Ajari aku caranya bersikap saat di depanku kalian menyodorkan sepiring cemburu. Ajari aku caranya menyeimbangkan angan-angan dan kenyataan.
Ajari aku menyeleksi mana yang termasuk tingginya ekspektasi dan kesungguhan isi hati. Ajari aku menuliskan kelanjutan cerita-cerita kita tanpa harus sambil menitikan airmata. Ajari aku untuk menutup telinga dari berita yang mencairkan luka. Ajari aku untuk mengeliminasi sesal dan kecewa yang mulai berjejal. Ajari aku untuk menjelaskan siapa sejujurnya, saat kau bertanya penyebabku ber-airmata.
Ajari aku memilih terus atau berhenti memperjuangkan saat hanya aku satu-satunya yang berjuang. Ajari aku untuk tetap menatapmu saat yang kau tatap bukan lagi aku. Ajari aku cara menyadarkanmu bahwa memang bukan aku yang paling sempurna, tapi untukmu akulah yang terbaik. Ajari aku untuk memutar rekaman peristiwa, dimana waktu berhenti disana, disaat kita masih bersama.
Ajari aku merencanakan kepergian saat lukalah satu-satunya yang kau suguhkan. Ajari aku mencelikkan mata pada yang hanya berniat menyakiti saja. Ajari aku merakit maaf dan tulus mengirimkannya untukmu. Ajari aku harus bagaimana meladeni ucapan manismu yang meninabobokanku ke dunia mimpi. Ajari aku untuk tahu kapan batasnya berhenti atau meneruskan seracik rasa lagi. Ajari aku menghapus airmata secepat kilat saat kamu merangkul tangannya dan menghampiriku.
Ajari aku untuk berhati-hati saat senyummu menghiasi tiap temu, sapamu jadi penambah nyawa bahagiaku dan percakapan kita meninggalkan rona. Ajari aku untuk tidak lagi memanggilmu tempat singgah, tapi rumah. Ajari aku untuk mengantisipasi rindu setiap selesainya sebuah temu. Ajari aku menemukan pintu keluar dari labirin kehilangan ini. Ajari aku untuk sabar menunggu, disela-sela ketidakpastian begitu erat merangkulku.
Ajari aku untuk menyudahi rasa yang masih rahasia.






Selasa, 16 Juli 2013

Kebetulan

Ada yang lebih juara menjadi penyimpan rasa tanpa suara.

Sebut saja aku.

Memahami tiap gerik yang kau ciptakan, memeluk tiap ucapmu dalam ingatan dan memilikimu meski baru dalam angan-angan. Duduk saja disana, aku memandangimu sambil terpikat lebih dalam. Ada satu yang hal sulit kutolak, segala yang semesta tawarkan dalam bentuk kebetulan.

 Kebetulan kamu hadir, kebetulan bertemu dalam sebuah pertemuan, kebetulan saling berkenalan, kebetulan terciptalah percakapan, kebetulan aku jatuh cinta denganmu, kebetulan kita dibungkus dalam sesederhananya perasaan yang lahir, kebetulan aku harus selalu terus melihatmu, dan kebetulan aku tak menemukan tombol untuk menghentikan rasa yang ada.


Tadinya, kebetulan-kebetulan itu terasa sakral. Tapi kebetulan memang hanya seonggok kebetulan. Tidak lebih. Dan harusnya disitulah kau nyalakan secepatnya radar tahu diri. Bahwa kebetulan takkan berarti apa-apa jika berujung pada hati yang telah berempunya. Kebetulan hanya sebuah repetisi, bonus bagi hati. Buatku, mungkin kebetulan hanya sebuah layar kaca yang bebas menyodorkan cerita mana buat para penonton setianya. Kebetulan hanya akan membuatmu tersenyum dibawa terbang oleh ekspektasi yang ketinggian. Kamu memang butuh kepastian yang bukan lagi bagian dari suatu kebetulan.

Aku harap kita tak hanya sebuat kebetulan, tapi dua pasang yang memang telah digariskan. Menunggu garis edar kita berubah dan mempersatukan aku dan kamu. Semoga.

Jumat, 07 Juni 2013

Ini ya namanya Takdir?

Takdir?
Iakah juru kunci pemberi dan pemberhenti setiap fungsi hati saat cinta mengalir? Sekuat itukah kehadirannya hingga kini aku masih menunggu saat ia tiba? Dari begitu banyak peristiwa, takdir telah ada. Bukankah saat pertama aku bertemu dengan objek yang kini melebatkan rindu, takdir juga ikut hadir? Salahkah jika aku masih menunggu keberadaan takdir? Apa takdir absen untuk mampir dalam perjalanan sampai cerita ini berakhir?

Padanya telah kupercayakan rasa yang sejak awal masih saja ada. Padanya aku tahu, kelak akan dipertemukan dengan yang benar-benar sudah menungguku. Tapi kini, giliran aku yang sedang menunggunya datang, tapi bukan ke arah sini. Datanglah menuju kepada ia yang aku cinta, lalu sama-ratakan rasa yang kami punya.Ketika takdir telah menuntun, tak ada kuasa kita untuk mencegah rasa itu datang berkunjung. Hati berdoa, semoga ia tak jatuh sendirian. Semoga milikmu pun terjatuh bersamaan. Kemudian saat ini, kuharap sebenarnya kita tengah saling menunggu kesempatan. Sebab ada debar yang tak mampu kujelaskan, namun cukup sanggup membangkitkan rindu tak berkesudahan.

Mungkin kamu tak akan pernah mengetahui, betapa sebuah hati sedang dikelabui perasaannya sendiri. Mungkin kamu juga tak akan pernah menyadari, betapa sebuah hati sedang berjuang melawan logika, agar denganmu ia bisa bersama. Menumbuhkan debar di dadaku itu terlalu mudah, yang sulit adalah menebak dengan benar ke mana langkahmu itu terarah. Apakah kepadaku? Ataukah kepada yang bukan aku? Senyummu itu kunci jawabnya, namun tak pernah kamu menatap sepasang mataku yang bertanya-tanya.

Bagaimanakah mengambil hati sang takdir agar nama kitalah yang dipasangkan sebagai dua yang nantinya takkan terpisahkan? Jika saja waktu bisa membantu mempercepat gerakmu untuk menuju ke tempatku, mungkin ini akan menjadi kerja sama termanis yang pernah ada. Memang perlu ada beberapa kerjasama untuk menyatukan kita selain lewat doa. Setidaknya aku ingin meminta agar ketika gelas berisikan nama-nama yang nantinya terkocok akan keluar sebuah kita. Lalu dengan sendirinya rinduku akan mencolek pipimu dan menyadarkanmu bahwa ia perlu teman. Membayangkan beberapa hal tentang kita yang masih berbungkus sebuah pinta dalam plastik sederhana sangatlah menenangkan jiwa. Aku bahagia, bahkan sebelum saat itu tiba.

Pada hari-hari yang juga sudah kulewatkan, ada harapan tentang kesamaan perasaan. Di waktu-waktu yang diisi kesunyian, ada keinginan agar kita bisa bersama menjalani keseharian. Bertemankan rindu tak juga membuatku akrab dengan waktu. Menunggu bukanlah kemampuan atau juga kemauanku. Tapi entahlah aku selalu memberikan pengecualian untuk segala yang tentang kamu. Tak pernah terpikir olehku, bagaimana bisa sebuah kejadian biasa kelak akan membuatku luar biasa menginginkanmu? Dari situ, kukira cinta adalah sebuah permainan antara dua takdir yang berpapasan. Mereka beradu debar di lapang dada masing-masing. Namun anehnya, siapapun yang paling pintar menjaga debar dengan sabar, tetap akan pulang membawa hadiah penasaran.

Andai mempertemukan dua hati dalam cinta semudah cerita-cerita bahagia, tak mungkin kiranya aku cemas akan luka yang bisa datang kapan saja. Namun kita hanyalah sepasang yang mudah terbawa takdir, sulit bagi hati kita untuk saling menafsir. Hati begitu mudah dibawa naik turun pergi dengan berbagai presepsi dan prediksi. Siapa lagi jika bukan kamu sebagai dalam dibalik setiap pengecualian dan pengendalian hatiku? Aku tak bisa menyalahkan sesiapa, bahkan takdir pun telah diberikan pembebasan dari suatu kesalahan oleh Tuhan. Aku hanya salah satu dari milyaran manusia yang menaruh percaya pada cinta diatas segala ketidakpastian yang ada. Buatku, hati akan selalu berperkara asalkan masih ada segenggam percaya.
Jika suatu saat, kamu terpanggil oleh takdir, kuharap cinta juga sudah bersamamu ikut mengalir. Lalu terlahir lah sepasang kembaran perasaan. Namun jika memang aku masih harus menunggu, semoga lama tidak perlu menjadi sebuah penghalang bagiku. Semoga angin akan mengarahkanmu menjadi sedekat yang aku ingin.

Semoga takdir akan membawamu kepadaku seperti yang aku mau. Tentang harap yang tak mengenal kata lenyap, mudah-mudahan akan ada saatnya untuk kita menyatukan perasaan.Kuharap senyuman yang aku miliki mampu memberikan getaran yang sama seperti yang kamu punya. Kuharap kehadiranku dapat menjadi sesuatu yang juga sedang kamu tunggu-tunggu. Kuharap permintaanku tidaklah begitu keterlaluan untuk bisa Tuhan kabulkan.

Dari balik sekat kaca pemisah takdir kita, aku memanggilmu mendekat. Berharap, berdoa, berupaya, agar cintaku sampai dengan selamat, di alamat yang tepat; hatimu. Semoga kiranya Tuhan bersedia memberi kata ‘iya’, agar tumpukan rindu serta penantian-penantianku, tak akan sia-sia.

Rabu, 27 Februari 2013

NYARIS


Aku pernah bahagia karena kita.

Aku pernah bahagia saat sayang bukan lagi sekadar kata-kata. Bahkan kita, pernah bahagia saat sedang menjalin rasa yang mereka sebut dengan cinta. Tentang menjadi alasan mengapa di hari yang buruk kita masih bisa bertukar senyum, tentang menjadi satu-satunya nama yang terucap sesaat sebelum mata memejam. Itulah kita, pada mulanya tercipta dan mungkin masih ada kenangan tersisa, maka itu masih kuingat walaupun cukup menyiksa.

Dulu, cinta seperti tamu agung yang selalu kita sanjung. Aroma asmara mengajakku merapihkan hati dan memberikan ruang untuk kau tempati. Percakapan dan pertemuan seperti barang berharga yang tidak bisa ditemui di pasaran. Hanya denganmu aku temukan kenyamanan dan perasaan-perasaan langka. Aku bahagia dengan cinta yang sederhana. Dengan dunia khayal bahwa nantinya cinta kita akan kekal. Aku dan kamu tanpa aral.

Sedikit demi sedikit aku mengumpulkan mimpi-mimpi tentang kita di masa depan. Aku tersenyum lebar walau segalanya belum menjadi kenyataan. Kamu mulai hadir menjadi alasan di balik segenap senyuman. Kini aku tahu, kali ini kita sudah saling menemukan. Aku hitung satu per satu, rasanya nyaris semua sudah kulakukan untukmu. Aku hitung satu per satu, rasanya mustahil ada alasan yang cukup kuat untuk mencegah kita tidak bersatu. Ya, kukira begitu. Namun, harapan dan kenyataan terkadang enggan sejalan. Aku dan kamu yang kukira pada mulanya sama-sama saling ingin menjadi sebuah ‘kita’ ternyata hanya wacana. Kisah klasik yang tak kesampaian, yang bingung kapan berawal, tapi tiba-tiba sudah sampai di ujungnya.

Tanya laris berbaris manis dalam kepala. Salahkah jika aku hanya ingin meminta lebih banyak kita? Salahkah jika aku kecewa begini ujungnya?

Aku selalu menjadikanmu prioritas teratas. Dan kamu selalu membuka ruang-ruang tanpa batas. Tak ada alasan rasanya untuk kita saling melepas. Tapi mengapa ‘kita’ mengabur? Melebur jadi kepingan yang perlahan nantinya akan hancur. Bukan cintakan yang luntur? Atau kita salah bergerak mundur?

Aku ingin pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan jujur.

Ternyata segalanya hanya nampak seperti cinta, tanpa pernah sedikit pun akan menjadi nyata. Sekarang aku mengerti rasanya terbang terlalu tinggi, lalu dihempaskan begitu saja tanpa tambahan waktu agar lebih mampu menghadapi. Segala sakit hati ini masih saja kuanggap seperti mimpi, sementara berlaksa maaf akan selalu tersedia untuk kamu. Di sini aku masih menanti, janji-janji yang katamu akan ditepati.

Kita yang dulu saling mendekat, sekarang menjaga agar tak melewati sekat. Kukira tujuan akhir kita sama, namun di pertengahan jalan menuju kepastian, kamu putar balik arah. Kamu seperti lelah bersamaku melangkah. Padahal jika bukan denganmu, selalu ada alasan untuk cepat menyerah. Lalu kini, aku bingung harus bagaimana. Kamu yang dulu sedekat jengkal, kini malah pintar menyangkal.

Setelah kepala berputar dengan tanya dan tak menemukan alasan pastinya, mata ditunjukkan oleh semesta bahwa kita salah menilai cinta. Ternyata, hatiku hanyalah ruang tunggu untukmu. Setelah perlahan sembuh, kau cari yang baru untuk berlabuh. Ternyata rumahmu itu bukan aku, tapi dia yang kini berdampingan denganmu. Pecahlah hatiku jadi seribu ketika telinga diserbu kabar itu. Ternyata kita memang digariskan untuk tak sampai menjadi ‘kita’. Kita bukan untuk bersama, tidak juga untuk berbagi bahagia yang masing-masing sedang kita bawa. Ternyata kita hanya sampai sedekat kata.

Mungkin memang ada beberapa cinta yang harus tetap disimpan, tidak untuk disatukan.

Kamulah kebahagiaan yang sudah ada di depan mata, sudah ada dalam genggaman tangan, namun akhirnya luput juga. Akulah yang selalu memimpikan, mengharapkan, lalu kini seperti ditinggalkan tanpa benar-benar pernah bersama. Ternyata sejuta hari yang kita lalui tak berarti apa-apa, sesaat setelah kamu hilang membawa asa.

Tapi tidak apa-apa. Aku bisa menerima. Begitu kan cinta seharusnya? Meski tak bersama, bukannya kita tak bisa bahagia. Tidak ada yang sia-sia. Kita seperti pecahan yang di cocokan, kemudian berpecah menemukan pasangan lainnya. Siklus itu akan selalu berputar terus sampai semesta menyerah pada arus. Dan pada akhirnya, meski kita tidak untuk bersama semoga saja bahagia sedang mengarah pada kita, dan datang secepatnya.

Untukmu, bahagiamu. Untukku, bahagiaku.

Mungkin memang seharusnya berjalan seperti itu. Aku yakin ini semua telah digariskan. Tak mungkin Tuhan tak merencanakan. Biarkan kita nikmati saat-saat terpuruk, sebab bahagia yang lebih banyak pasti sedang menunggu kita jemput.

Senin, 25 Februari 2013

Hai, i'm your secret admire

Ada yang masih kulakukan secara sembunyi-sembunyi. Ada yang sedang mengharapkan sesuatu yang ketiadaannya masih sanggup dimengerti. Ada sewujud doa yang kuungkap setiap mengawali pagi, untuk ia yang belum juga tahu tentang apa yang kulakukan setiap hari, di sini. Ada yang kesulitan mengatur debar napas, seusai segaris bibirmu mengembang bebas.Sebutlah aku pengaggummu.Entah sampai kapan namaku tak kuucapkan. Entah sampai kapan aku sebagai sosok transparan yang memelukmu dengan doa dan harapan. Entah sampai kapan rasa ini tak terutarakan. Entah sampai kapan aku harus menyimpan perasaan yang tak beralaskan alasan. Rasanya dengan ketidaktahuanmu tentang pengetahuanku tentangmu lebih baik untuk sementara waktu.Bukan aku sama sekali tidak sedang mengharapkan, namun hanya berusaha memaklumi segala keterbatasan-keterbatasan. Bukan aku tidak ingin turut dirindukan, namun hanya menghindari hati ini dari kemungkinan dikecewakan. Karena hanya dengan melihatmu, sepertinya cukup untuk membantu menenangkan selaksa rindu yang sudah sejak lama menunggu.Mungkin seluruh penjuru pikirmu meragu tentang seberapa besar perasaanku, tapi sungguh ini bukan sebatas rasa penasaranku. Takkan kupanjatkan doa, jika kamu tak istimewa.

Mungkin menurutmu aku pengecut, tapi waktu yang tepat hanya belum menjemput. Dari sisi yang sama sekali tidak terlihat, aku senang memandangimu sebagai suatu ciptaan yang sejak awal sudah indah terpahat. Biarkan aku mengagumimu sekuat yang aku mampu, biarkan aku mengagumimu selama yang aku mungkin. Tak perlu pedulikan sebesar apa rasa yang semestinya kaubalas, tak perlu acuhkan harus sampai sebatas apa kita hingga mampu membuatku puas.Karena apapun perlakuanmu, tidak akan mengubahkan aku.

Nampaknya aku terlalu malu menunjukkan perbuatanku yang diikuti ‘selalu’. Mungkin aku takut ketika suatu waktu kamu tahu, lalu seluruh perasaanku terhenti karena kamu berlalu. Menunggu hanya satu-satunya aksi statis yang menurutku begitu manis. Karena menunggu perlu kesabaran untuk mempertahankan percaya dan mengusir ragu. 

Aku mungkin hanya terlalu siap untuk menerima bahwa kita bukanlah untuk menjadi nyata. Maka aku akan sembunyikan rasa yang ada selama yang aku bisa. Meski memang selalu ada keinginan semoga kita diciptakan untuk saling menemukan, namun aku sadar tak perlu berharap pada sebuah ketidakmungkinan. Untuk rindu-rindu yang akhirnya berlarian menujumu saat tatap mata kita bertemu, aku menyelipkan sekecil doa di situ.

Aku mengagumimu tanpa suara, mungkin dalam menenangkan rindu harus dengan cara yang sama. Meski tanpa isi hati yang bersuara, aku bukannya seorang penipu rasa. Tapi mungkin aku telah dihadiahi porsi mengagumi dengan cara tersembunyi.

Mungkin cinta lebih baik tersimpan dibalik saku Tuhan, hati yang semakin jatuh perlahan dan kamu yang dipenuhi ketidaktahuan. Mencinta itu sederhana ketika kekuatiran lelah jadi prioritas kita.Jangan pernah berpikir aku lelah dengan cerita rahasia ini, karena sungguh aku menikmati peran ini. Mengagumi adalah hal yang masih bisa kulakukan.
Tak ingin bicara soal ketetapan, tapi selama bahagia masih berdatangan seluruh cerita tinggal Tuhan yang melanjutkan. Semoga, pengaggum rahasia diperbolehkan bahagia saat Tuhan menghadiahi “kita”.
posted from Bloggeroid

Minggu, 24 Februari 2013

KAU yang TAk MUNGKIN

Entah turun dari siapa rasa paling teristimewa sedunia. Tiba-tiba begitu saja menyelinap dalam kita. Sejak detik pertama segalanya bermula, aku tak pernah berpikir rasa ini akan berakhir. Entah siapa yang memulai pertama. Entah aku. Entah kamu. Yang kutahu, tiba-tiba debar sudah menyebar. Hatiku jatuh padamu tanpa sadar. Namun hatimu seperti mengunciku di luar pagar. Tidak benar-benar mengizinkan masuk, memintaku terus menunggu di luar. Katamu, hati itu nampak kosong untuk sekian lama. Katamu, otak hampir saja lupa tentang bagaimana wujud cinta. Jauh, di lubuk hati yang hanya bisa membisu, aku ingin namaku untuk bisa terukir di sana.

Meski aku tahu, jatuh cinta kepadamu memang penuh resiko. Resiko untuk terbang terlalu tinggi dengan sayap rapuh yang kau pinjami, lalu dengan atau tanpa kamu sadari kau jatuhkan lagi aku ke bumi. Ini memang terlalu tinggi, tapi ternyata sakitnya berlipat kali jika kamulah objek utama dibalik semua ini.Lebih baik jangan membalas senyumku, jika sebetulnya hatimu tak mau. karena bagaimanapun juga, hati ini pernah merasa bahwa kamu pun mengharapkan kita bersama. Walaupun nyatanya, sedetik setelah harapan datang, ada kecewa yang menyusul dari belakang. Setelah rentetan bahagia itu berlalu bersama sang waktu, kini kudapati kamu bersanding dengan cinta yang baru.

Tentang bagian cerita mesra yang kita punya, sekarang bagimu sudah tak berarti apa-apa. Mungkin aku begitu bodoh hingga mengira kita akan berjodoh. Tak tahu rupanya dengan sel-sel ekspektasi dalam kepala ini membuat hatiku perlahan-lahan roboh. Pada akhirnya, kita seperti mengakhiri apa yang belum sempat kita awali. Dan ternyata, awal yang lain datang begitu cepat untukmu dan dia. Sedangkan aku, masih tetap di sini. Membiarkan diriku sendiri terbanjiri sepi. Membiarkan hitam mataku kini rindu ditatap hitam matamu. Tentang menatap dengan malu-malu, memulai percakapan dengan suara bergetar, degup jantung yang tak sesantai biasanya, ya, itu yang kurasa ketika kita bersama. Lalu berubah menjadi airmata, saat kamu berkata itulah yang kamu rasa di antara hari-hari bersamanya.Memangnya jika kutampakkan airmata, kau akan meninggalkan dia? Memangnya jika kamu tahu tentang senyuman pura-pura bahwa aku mengaku rela melepasmu dengannya, kamu bisa berbalik ke arahku dan amnesia soal dia? Sayangnya, aku tak suka memaksa.

Cinta bisa hilang maknanya jika aku menyudutkanmu untuk bilang iya. Begitu banyak ketidaktahuanmu tentangku, tapi berkalipun kau menyakitku. Aku tak bisa berbalik seperti itu. Karna kamulah ketetapanku. Pernahkah kamu, untuk sebentar saja, menyesal telah memilih dia daripada aku? Pernahkah kamu, untuk sekali saja, mengangankan aku menggantikan ia di sisimu? Jika aku terlalu lugu untuk mengatakan ini cinta, lalu mengapa hanya untukmu doa ini terus meminta? Namun tak mungkin kita dipertemukan Tuhan tanpa rencana. Seperti halnya tak mungkin Tuhan tidak berencana memisahkan, walaupun kita belum pernah bersama. Kata ‘jatuh’ pada ‘jatuh cinta’ mungkin saja merupakan peringatan awal. Sehingga hatiku mestinya benar-benar siap akan ‘jatuh’ dan tak boleh menyesal.

Jika bukan karena janji sejak awal untuk bahagia dengan pilihanmu, mungkin tak akan kubiarkan mulut ini untuk tetap membisu. Jika ada satu hal dalam diri ini yang membuatku merasa pantas, tak mungkin kamu kulepas. Jika bukan sebagai kekasih, mestinya ada peran lain yang lebih baik untuk kita lakoni. Seharusnya, masing-masing kita akan menemukan bahagia, walau bukan dengan bersama. Hanya kamu ketetapan hatiku selalu memaafkan dan mencintaimu tanpa batasan. Hanya kepadamulah segala gengsi bisa turun sendiri. Lagi-lagi aku yang pertama memulai “Hai” dalam percakapan kita. Lagi-lagi aku yang memukuli kepala sendiri ketika kecewa menyerangku bertubi-tubi karena ekspektasi terlalu tinggi. Lagi-lagi tak ada alasan untuk membenci meskipun luka ini aku yang menjalaninya sendiri. Lagi-lagi aku yang berjuang sendiri untuk pergi, meskipun berulang kali sosokmu tak henti menghampiri.

Entah apa isi doamu pada Tuhan setiap malam, sehingga dengan mudahnya kamu selalu kuberi maaf. Padahal goresan di hati belum sempat sembuh, namun kemudian kamu membuat goresan baru dengan luka melepuh. Percuma sebetulnya menumpahkan semua salah hanya padamu. Seolah harapan yang kurajut satu demi satu setiap debar kita bertemu adalah bukan bagian kesalahanku. Aku tahu, harapanku selalu bebas tumbuh, sebebas arah perahu layarmu menentukan arah berlabuh. Sayangnya bukan di dermagaku pilihan perahumu mengistirahatkan diri. Ah, jika memang manusia diciptakan berpasangan, mengapa tidak sejak semula kita dipasangkan? Adalah aku dengan segala rasa sakit yang aku nikmati sendiri. Bermula dari pernah berharap bahwa aku yang akan kaujadikan rumah. Lalu dari setiap kebetulan-kebetulan tentang kita, aku selalu berusaha mencari celah. Berdoa mungkin saja aku dan kamu sudah dituliskan untuk bersatu. Nyatanya, jalan kita tak pernah menemukan titik temu. Kini, dengan berbekal segala jawab yang sudah sangat jelas, aku membuang segala harap dan bersiap untuk melepas.

Pergilah kamu, dengan kebahagiaan yang selama ini kaucari. Temukanlah rumah yang kauingini.Maaf jika segala perasaan ini hanya bisa terkunci dalam hati. Maaf jika telingamu belum sempat mendengar nama siapa yang selalu membuatku tersenyum lebar. Mungkin begini porsi bahagia yang nantinya akan kita nikmati. Maaf jika kamu terlalu menghiasi tiap rona pipi setiap kali harapan kau terbangkan dengan sangat tinggi. Dan, maaf jika aku sulit berpindah ke lain hati. Tapi, mungkin itulah cara semesta membuat hatiku dewasa. Kini, aku akan pergi melarutkan rasa. Semoga hatiku lupa caranya menyesal pernah terjatuh padamu. Semoga hatikupun lupa caranya pulang jika nanti datang saatnya meninggalkanmu. Semoga bibirku mudah mengingat bagaimana caranya tersenyum sebelum kamu yang menjadi alasannya. Semoga akal pikirku mudah memaafkan atas apa yang pernah kamu sebabkan. Pada akhirnya, semoga kamu menemukan bahagiamu yang paling membahagiakan dari ia yang berada di sampingmu.

Tuhan Maha Tahu, kepada siapa akhirnya lukaku berubah jadi cinta yang baru.
Untuk segala penyebab mata tetiba basah oleh rindu dan sendu, terima kasih banyak. Walau tidak mungkin aku untuk segera bangkit setelah terjatuh, aku tahu akan ada cinta di kemudian hari yang mampu membuatku luluh.
Mungkin bukan lagi tentang kamu, bukan lagi tentang masa lalu. Karena seharusnya, segala tentang kamu, sudah terselesaikan. Di titik di mana aku pernah meneteskan airmata, di situ aku melepaskan kenangan-kenangan tentang kita.
Selamat berbahagia, kamu. Semangat mencari bahagi,aku.
posted from Bloggeroid

Sabtu, 16 Februari 2013

KENAPA CINTA?

ga penting sih ngebahas ini tp jadi gatal nulis gr2 ngliat orang ga ngerti soal cinta.

kenapa cinta? kenapa ya,. karena hidup ini ga lepas dari cinta, kecintaan,. cinta murni soal perasaan,. ga ada rumus baku soal perasaan,. cuma logika yang ngebentuk dan ngedeskripsiin cinta. tiap orang akan mengartikan cinta, sesuai logika masing - masing.

jadi jangan pernah nyalahin cinta.. salahkan logika masing - masing yang menganggap apa itu cinta cinta juga seringkali diperalat untuk pemenuhan keinginan,. alasan untuk tujuan2 tertentu,. dan akhirnya menyesali cinta padahal, cinta ga pernah berbuat apa - apa,. dia cuma jadi bagian dari dasar hati tiap manusia.

oke, sekarang masuk ke inti notes,. kenapa cinta? karena cinta dideskripsiin oleh logika masing2,. berikut berbagai deskripsi cinta yang muncul dari logika pribadi:

1. cinta monyet
bibit cinta muda. muncul saat anak beranjak remaja,. sejalan dengan berkembangnya fungsi2 organ genital dan hormon, (sok tau bgt, biologi bukan bidang gw) mulai muncul rasa ketertarikan dengan lawan jenis, intinya cinta monyet adalah sekedar pemenuhan rasa ingin tau terhadap lawan jenis,.

2. cinta posesif
ini tipe cinta yang paling umum yang dimiliki manusia cinta yang disertai keinginan untuk memiliki, menguasai, bla bla campur tangan ego masih terasa sangat kental disini,. cinta dominan atas nama ‘gue’. cinta posesif yang ideal ialah atas nama ‘kita’ ego akan buruk jika cinta ga direspon sesuai keinginan cinta akan selalu meminta, menuntut,. sensitif dengan berbagai bentuk kekurangan,. sangat konsumtif,. yaa, kadarnya bisa besar, bisa kecil,.

3. cinta …….. (tolong bantu beri nama untuk yang ini)
cinta ini jarang banget ditemuin. dan akan terlihat sangat bodoh kalau hanya dinilai dari luarnya. susah dimengerti, dan kadang menyesatkan intinya, cinta ini selalu berusaha untuk memberi, dia akan senang menerima, tapi ga berharap buat itu ga menuntut, ga meminta,. karena hanya atas nama ‘kamu’ cukup jika pemberiannya bermanfaat. itu tujuannya

4. cinta inti
cinta yang asli ialah penghambaan artinya perelaan diri sepenuhnya kepada yang dicinta,. cinta tanpa campur tangan logika. apalagi ego,. pelepasan atas kepemilikan diri sendiri, sepenuhnya menjadi hak yang dicinta mustahil? hampir mustahil iya,.

seumur peradaban manusia, hanya ada beberapa puluh orang yang bisa mencapai cinta yang jelas, para Rasul2 Tuhan.. itu pasti. sidartha gautama? mahatma ghandi? wah ga tau ya,. tapi mereka orang hebat,.

jadi kalau ada yang nemu masalah karena cinta atau bahkan selalu bermasalah dengan cinta malah lebih banyak masalah gara2 cinta (tuh kan nyalahin cinta lagi) yaa, cukup introspeksi diri,. koreksi logika masing - masing ubah definisi cinta,. karena apa, untuk apa, gimana caranya,. kalau ga bisa, ya kehidupan cinta bakal gitu2 aja dan jangan salahkan cinta, sekali lagi salahkan diri sendiri,. karena ga ngerti apa itu cinta
posted from Bloggeroid

Senin, 02 April 2012

Stop Joking With ‘Autis’ Word

tulisan ini terinspirasi dari novel milik Agnes Davonar yang judulnya My BlackBerry Girlfriend.  karena saya sangat terganggu dengan banyaknya typo dan penggunaan kata autis sembarangan.
Ok, mari bercerita tentang buku ini. My BlackBerry Girlfriend ini menyabet predikat most reading online story, dengan pembaca mencapai 250rb kali dalam seminggu sejak dipublish. WOW. Jumlahnya fantastik memang. Bercerita tentang Martin dan Angel yang bertemu karena BlackBerry. Slapstick. Tapi memang terjadi di kehidupan nyata menurut Agnes Davonar.
Bab pertama kata autis banyak sekali dipergunakan mengingat Martin adalah pengguna baru Blackberry anyaran. Dan banyak salah eja salah kata plus kalimat yang ngga enak dibaca. Sorry, saya memang pembaca novel yang pengen mbaca dengan enak. Kalau ada salah eja sepertinya mengganggu. Belum lagi waktu Angel mbangga²in dia lulusan perhotelan dari Swiss plus lulusan UPH yang ternyata di belakangnya diceritakan lagi kalau dia drop out karena hamil di luar nikah.
Anyway, setelah selesai baca novel My BlackBerry Girlfriend saya jadi semakin terganggu dengan candaan Autis. Plus komentar-komentar di bagian kerjaan saya yang komentatornya sering banget bilang cacat. Untuk kita yang ngga ngalami dan ngerasain sendiri dengan penderita autisme sepertinya ga masalah. Tapi kalo kita ngomong gitu dikiit aja di depan mereka yg keluarganya penderita autisme, bisa dibayangkan reaksinya? Pengarang dan penerbit My BlackBerry Girlfriend rupanya ngga sensi dengan isu yang berkembang di masyarakat. Komunitas BlackBerry Indonesia sendiri sudah meniadakan penggunaan kata autis di kalangan mereka. Karena ini novel dangkal, mereka ngga riset masyarakat jadi mereka (pengarang dan penerbit) ngga merasa perlu untuk menghindari penggunaan kata autis tersebut. 

bayangkan ini…. 

Pernah nggak kita membayangkan,… Sebentaaar saja…. kita menjadi orangtua dari anak autistik….    Bayangkan bahwa berkomunikasi dengan anak yang menjadi curahan jiwa ternyata sangatlah sulit…    Kita tatap matanya dengan penuh cinta,… tapi dia tak membalas…    Kita peluk dia dengan penuh kasih sayang,… tetapi ia menghindar….    Kita ajari dia dengan kesungguhan yang penuh,… tapi ia malah mengacuhkan anda,…  bahkan tidak peduli.    Kita jagai dia dengan penuh kehati-hatian… tetapi dia malah mencelakai dirinya sendiri dengan memotong tangannya, menyetrika jari jemarinya, bermain tanpa menyadari bahaya sehingga membuat dia terjatuh dan kepalanya bocor…Pernah gak kita membayangkan… sebentarrrrr saja… menjadi orangtua dari anak atuistik…    Ketika kita bingung bagaimana menghadapi saat-saat dia mengamuk tanpa sebab yang jelas…    Memukul-mukul dadanya karena tidak tahu rasa apa yang ada didadanya… Yang dia tahu hanya dadanya sakit… dan dia berharap dengan memukul dadanya… rasa itu akan hilang???…    Pernahkah kita membayangkan rasanya ketika melihat anak kita memukul-mukul kepalanya ketika dia marah dan tidak tahu bagaimana mengontrol perasaannya sendiri…    Membenturkan kepalanya ketembok atau kelantai, karena dia tidak tahu apa yang membuat kepalanya sakit… Dia hanya berharap ketika membenturkan kepalanya ketembok… rasa sakit itu akan hilang….    Pernahkah kita tahu…. bagaimana rasanya ketika kita mencoba untuk memeluk dan menenangkannya… dia malah menggigit kita…???    Ketika kita anak-anak lain sudah bersekolah, anak kita bahkan belum bisa berkomunikasi sama sekali….Lalu sekarang bayangkan,…. KITA,…  melihat orang lain yang bercanda seperti tadi. Bagaimanakah rasanya?

Semoga Anda tergugah…. Stop bulliying our feelings, as a parents of autism child… by using our kids dissorder as your DAILY JOKES!!!


Ya, berhentilah “melukai” perasaan orangtua dari anak-anak autistik… dengan menggunakan kata-kata AUTIS sebagai bahan olok-olokan sehari-hari… They have struggling enough with their kids.

Jumat, 30 Maret 2012

bermalam dengan TV demi si sidang PARIPURNA

30 Maret 2012
tgl keramat ni kayaknya buat para pejabat, cie illeee keramat haha. yang jelas mereka yang katanya memikirkan hati rakyat sedang berjuang keras di DPR tercinta yang pagarnya udah hilang ke mana - mana demi BBM agar tidak di naikkan.
tapi, tapi dan tapi
semua cuma sekedar omongan, karna hasil yg dharapkan masyrakat berbuah Abu - Abu. 
dari rapat Paripurna kemaren akhirnya muncullah 2 opsi

Opsi pertama tidak ada perubahan apapun dalam RUU-APBN-P 2012 pasal 7 ayat 6 yg isinya pemerintah tidak boleh menaikan harga BBM


Opsi kedua adanya penambahan pasal 7 ayat 6a yang isisnya memperbolehkan pemerintah mengubah harga BBM jika harga minyak mentah (Indonesia Crude Price) IPCmengalami kenaikan atau penurunan rata- rata  15 persen dalam kurun waktu 6 bulan.


nah ternyata setelah hasil voting opsi kedua lah yang menjadi pemenangnya .  anggota yang hadir ada 600 orang. yang Setuju pada opsi pertama ada 82 orang dan yang setuju dengan opsi kedua ada 356 orang selebihnya walkout.
, tapi kalau menurut saya hasil voting ini tidak sah. kenapa? karna setau saya voting di dpr itu di wakili oleh fraksi sehingga yang menjadi perwakilan adalah partai bukan individu. tapi kenyataannya justru voting di lakukan secara individu.

jadi???
yaaa ada partai yang masih akan melakukan uji materi tentang hasil sidang itu.

ini hasil abu - abu, rakyat ada yang mengerti dana da yang tidak. yang tidak mengerti merasa bahagia karna tgl 1 april nanti bbm tidak naik, nah yang mengerti merasa kecewa karna BBM pasti naik. ini hanya akal - akalan wakil rakyat yg kita pilih sendiri. wakil rak yat yang seharusnya melihat kemiskinan rakyatmnya, wakil rakyat yg harusnya bisa berfikir panjang tapi malah memikirkan dirinya sendiri malah memikirkan jabatannya di dpr jika dia melanggar koalisinya.  miris memang.

\


rakyat diluar sibuk ber-orasi berharap BBM turun, eh si bapak malah mimpi indah di ruang ber AC

Selasa, 27 Maret 2012

BBM oh BBM

Morning, morning dan Morning.
huaaaaaaaa rasanya malas banget pagi ini. apalagi kalau ngelihat kelender ini masih tgl 28 Maret yg artinya, di jalanan masih banyak demonstrasi.

heran deh kenapa sih pada banyak yg demonstrasi cuma gara BBM naik, padahal kalau di lihat lihat harga bbm kita nggak semahal negara lain, selain itu yg bikin bingung lagi, orang - orang yang ngerasa nggak mampu beli bbm tapi kalau buat ngerokok mampu tuh ngeluarin uang berapa aja, bahkan nggak makan juga nggak papa asala ngerokok. Aneh kan

td malam iseng2 buka FB yang sudah tak terjamah, iseng aja ngeposting status tentang protes kenapa hrs menanggapi kenaikan BBM dengan demonstrasi, ternyata ada nge respon status ku, " bukan masalah 6000 nya tetapi dampak kenaikkannya"
ya, emang bukan hal yang aneh BBM naik segala kebutuhan Industri juga naik, tapi ya, aq juga heran. ini masih tanggal 28 yg artinya pemerintah belum secara resmi mengungumkan kalau BBM naik tapi tapi kata bunda ku harga kebutuhan di pokok malah pada naik drastis. Nah lo lucu kan. jadi sih menurutku harga itu naik bukan karna BBM tapi emang para pedagangnya aja yang pada nakal.

upss udah deh segitu dulu nggak enak pagi2 ngomel, lgian pagi ini saya harus keluar rumah melawan demo, nah lo hahhahahahhahahahha

Senin, 12 September 2011

PMB ( Penerimaan Mahasiswa Baru) FK USU 2011

yuuuuuppppp!!
Akhirnya ada kesempatan juga buat nge-post secuil cerita seminggu ini
yeahhh...
ini minggu yang benar2 sibuk, mulai dari jadwal kuliah yang serba mepet plus kegiatan Tahunan yaitu PMB.
Sebenarnya gak gitu tertarik sih nge-post cerita tentang PMB FK USU 2011 kali ini sedikit berbeda.
hehehhe
baiklah.. kita mulai...


eng ing eng.. heheh
 PMB FK  sih saya sendiri kurang tau sudah menjadi tradisi sejak kapan, tapi untuk 2011 kali ini kita mulai dari tanggal 8 September - 11 september, dengan panitia pelaksana teman2 stambuk 2008.


Gak ada yang menarik sih di hari pertama, adik2 calon mahsiswa/i diperkenalkan tentang ciri khas ospek di FK, mulai dari panggilan kepada senior yaitu DEWA DEWI, kalau ke dosen MAHADEWA MAHADEWI dan buat mereka senidri pangglannya CAMA CAMI, oh ya ada satu lagi ada yang paling khas yaitu SALAM DEWA DEWI. nah salam ini mereka harus membungkukkan badan berdesisi seperti ular dan kemudian menjatuhkan badan sujud lalu berteriak mampus aku, kemudian senior kan berkata mampus kalian. kali ini mereka dibagi dalam 20 kelompok, nama kelompoknya juga aneh  mulai dari undangan,paspor,bacot,boros, dll.
Nah sore hari nya sekitar abis ashar kita punya kegiatan yg namanya KEAKRABAN. nah disini adik2 kita lepas untuk mencari ttd senoir baik panitia maupun bukan panitia. ini dia ajangnya silahtuhrahmi adek2.
masih pada bersih ya nie baju...

ayoooo di cium , tanda cinta sama FK USU


lihat kami, sexy kan hahahhahah

Tapi, ternyata ospek kali ini agak berbeda, ada satu hal yang sangat menarik, dan mungkin ini uga efek yang terlihat dari perkembangan teknologi, kita semakin mudah mengekpresikan apa yg kita rasa ( kayak saya hehehe) . nah salah satu peserta ospek mungkin terlalu bingung mau cerita ke siapa sampek akhirnya di nge- post unek2 uneknya ke salah satu jejaring sosial


Ini nie Trend Topic di PMB

dan mau tau akhirnya adik kita yang terlalu jujur ini jadi apa di PMB FK 2011
ini dia huhuhuhu :(


Tapi sekarang masalah dah selesai kok, orang tuanya udah datang jauh2 dari bekasi buat minta maaf dan semua kita anggap THE END :)


Inilah PMB , memang sesuatu yang gak enak, sesuatu yang nyakitin hati tapi percaya aja itu bakal jadi kenangan sendiri buat kita..


ini salah satu contoh yang senang sama PMB



malam inagurasi, yang slalu menyenangkan.. :)



Jumat, 03 Juni 2011

Cerita Isi Hati

saat mentari telah bersembunyi
rutinitas tak berhenti di sini
di tengah keriuhan tak berarti
terhenti, terdiam, dan lagi-lagi tak ada yang menemani
jika dinding-dinding kamar bisa bernyanyi
kan ku dengar lagu sendu paling ngeri
kenapa begini ?
sudah bosan, beginilah setiap hari
wira-wiri kesana kemari
padahal tak tahu maunya hati
seonggok daging tak berarti di sini, hanya kumpulan daging tanpa isi
jiwa dan hati pergi ingin kembali pada pujangga hati
kembali sunyi, selalu sunyi
tangisan hati paling ngeri
meronta berteriak ingin kembali
tak sanggup lagi menahan yang tak pasti
aku ingin kembali pada sang kekasih hati

CEMBURU


Dirasa berpola, tidak
Dirasa misterius, juga tidak
Yang mengalir hanya hal yang tak terduga
Kadang bisa di tebak, kadang tidak
cemburu hati tidak mengalahkan segalanya
rasionalisme harus berpacu pada adanya
kadang kata tak menggambarkan segalanya
sulitnya perasaan jadi biang keladinya
Berungkap tak berkata
Berbisik namun beriak

PINTU


dan kini aku berdiri di depan sebuah pintu,
yang mana dengan langkahku akan jelas semuanya
Pintu akan tertutup dan semua yang dibelakang hanya akan jadi kenangan
sakit rasanya harus menulis “hanya” sebelum kata kenangan
karena bangunan yang dibuat dengan canda tawa itu tak akan bisa lagi disentuh atau dilihat
karena bangunan yang dibuat dengan perasaan sayang itu tak akan lagi bisa di rasa keberadaannya
saat semua jadi kenangan
Aku ingin terus membangun memoriku bersamamu
aq ingin terus membangun bahagiaku dengan detikmu
tapi bila pintu ini memaksaku untuk melaluinya
aq mohon maaf yang sebesar-besarnya
Maaf untuk rasa sedih yang ku buat
maaf untuk harapan yang telah ku bangun
maaf untuk sejenak rasa sayang yang akhirnya menyakitkan
dan maaf untuk meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini

Kamis, 10 Februari 2011

TEGAS

Katamu..
Bukan pada negara
Bukan pada masyarakat
Bukan pada mahasiswa
Bukan pada keluarga
Bukan pada diri sendiri..
Aaah…saya tidak butuh ucapan
Kenapa tidak dilayani saja semua biar puas?
Kenapa tidak sekalian bersumpah saja biar tegas?
Satu ya hanya satu..tidak mendua!
Terlanjur?! terlupa? terbuai?  alasan!!
Hanya tegas yang menjawab!
Tegas untuk menahan
Tegas untuk berkata tidak
Tegas untuk berucap lugas
Tegas!!!!

Dunia Sahabat

ini dunia kita, untuk berbagi pendapat
ini dunia kita, dunia berbagi pikiran
ini dunia kita, dunia untuk menajdi diri sendiri
bersahabat sekian lama tampak mengecilkan dunia kita
saat ketertarikan dan masalah menjadi tak jauh berbeda
saat pengalaman-pengalaman menjadi milik bersama
maka tak akan ada banyak sharing diantara kita

aq tak mau buta bersama
aq tak mau kita selalu melihat arah yang sama

ceritakan padaku tentang duniamu
berpisah untuk kita tak selalu buruk
beragam bisa sangat mengasikan bukan

ceritakan padaku tentang sudut pandangmu
dari negeri orang itu
kadang impian yang dirajut bersama tak harus selesai sama

kita sahabat
di segala tempat

kita sahabat
di setiap saat

kita sahabat
dan akan selalu berjabat..
jauh ataupun dekat

Selasa, 09 November 2010

Hari Ini

Hari ini
Seharusnya aku banyak tersenyum
Dalam malam yang indah
Namun...
Tidak dari sudut pandangku hari ini
Aku menangis
Untuk melupakan rasa kekesalan yang dalam
Kesal pada diriku
orang-0orang di sekitarku.


Aku sendiri
Melawan rasa yang bimbang
Aku sendiri
Melawan rasa sepi yang merajam
Aku sendiri
Melawan rasa yang terpendam


Bila rasa ini menghantamku
berkali-kali
Maka kamu akan melihatku
sebagai satu sosok
yang tak bernyawa