Sabtu, 09 Juni 2018

invaginasi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
            Invaginasi adalah proses dimana suatu segmen usus bagian proksimal masuk kedalam lumen usus bagian distalnya sehingga menyebabkan obstruksi usus dan dapat menjadi strangulasi dan kemudian mengalami komplikasi yang berujung pada sepsis dan kematian.
            Invaginasi pertamakali di gambarkan oleh Paul Barbatte di Amsterdam pada tahun 1674. Jonathan Hutchinson melaporkan operasi pertama invaginasi yang berjalan sukses terhadap anak usia 2 tahun pada 1873. Di Amerika Serikat, Ravich mempopulerkan penggunaan reduksi barium enema untuk mengatasi invaginasi. Berdasarkan jenis kelamin, laki – laki paling banyak mengalami invaginasi dengan rasio yang berbeda di masing – masing wilayah dimana rasio laki – laki dan untuk wilayah Asia 9 : 1.
            Gejala klasik yang paling umum dari invaginasi adalah nyeri perut yang sifatnya muncul secara tiba – tiba, kolik, intermiten dan berlangsung hanya beberapa menit. Gejala awal yang sering dikeluhkan adalah muntah. Kerusakan usus berupa nekrosis hingga perforasi usus dapat terjadi diantara hari ke 2- 5 dengan puncaknya pada hari ke 3 setelah gejala klinis terjadi.
            Di Negara maju, outcome dari pasien dengan invaginasi memiliki prognosis yang lebih baik karena dapat tegak secara dini diikuti dengan prosedur terapi yang invasif seperti reduksi barium enema. Sebaliknya, di negara berkembang banyak anak dengan invaginasi di laporkan mengalami keterlambatan untuk mendapatkan terapi defenitif.












BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Invaginasi
2.1.1.   Defenisi
Invaginasi merupakan suatu keadaan dimana segmen usus bagian proksimal (intususeptim) masuk kedalam segmen usus bagian distal (intususepien) sehingga menimbulkan obstruksi/ strangulasi

2.1.2.   Epidemiologi
Estimasi insidensi akurat dari invaginasi tidak tersedia untuk sebagian besar negara berkembang, demikian juga di banyak negara maju. Di Afrika, tidak ada penelitian yang melaporkan angka kejadian dari invaginasi. Di Asia dalam hal ini Taiwan dan Cina, dilaporkan insidens dari invaginasi adalah 0,77 per 1000 kelahiran hidup. Di India, angka kejadiannya dilaporkan berkisar 1,9-54,4 per tahun. Tidak ada data yang menyebutkan tentang insidensi per kelahiran hidup. Di Malaysia lebih kurang 10,4 bayi dan anak dirawat di RS Umum Kuala Lumpur karena intususepsi per tahun. Di Indonesia, angka kejadian invaginasi di RS wilayah pedesaan dan perkotaan didapatkan angka yang berbeda, yaitu masing-masing 5,8 dan 17,2 per tahun. Irish (2011) menyebutkan insiden intususepsi adalah 1,5-4 kasus per 1000 kelahiran hidup.
Invaginasi umumnya ditemukan pada anak-anak di bawah 1 tahun dan frekuensinya menurun dengan bertambahnya usia anak. Di Afrika, insiden puncak invaginasi muncul antara usia 3-8 bulan. Di Asia, insiden puncak antara usia 4-8 bulan.
Umumnya invaginasi ditemukan lebih sering pada anak laki-laki. Di Afrika, tepatnya di Tunisia, rasio laki-laki dibandingkan perempuan adalah 8:1. Di Asia, rasio perbandingannya adalah 9:1. Di Timur Tengah, perbandingan antara laki-laki dan perempuan berkisar antara 1,4:1 sampai 4:1.

2.1.3.   Etiologi
1. Idiopatik
Menurut kepustakaan, 90-95 % invaginasi pada anak di bawah umur satu tahun tidak dijumpai penyebab yang spesifik sehingga digolongkan sebagai “infantile idiophatic intussusceptions”. Kepustakaan lain menyebutkan di Asia, etiologi idiopatik dari invaginasi berkisar antara 42-100%.
Definisi dari istilah  ‘idiopatik’ bervariasi di antara penelitian terkait invaginasi. Sebagian besar peneliti menggunakan istilah ‘idiopatik’ untuk menggambarkan kasus dimana tidak ada abnormalitas spesifik dari usus yang diketahui dapat menyebabkan invaginasi seperti diverticulum meckel atau polip yang dapat diidentifikasi saat pembedahan. Dalam kasus idiopatik, pemeriksaan yang teliti dapat mengungkapkan hipertrofi jaringan limfoid mural (Peyer patch), yang disebabkan oleh infeksi adenovirus atau rotavirus.
Invaginasi idiopatik memiliki etiologi yang tidak jelas. Salah satu teori untuk menjelaskan kemungkinan etiologi invaginasi idiopatik adalah bahwa hal itu terjadi karena Peyer patch yang membesar; hipotesis ini berasal dari 3 pengamatan: (1) penyakit ini sering didahului oleh infeksi saluran pernapasan atas, (2) wilayah ileokolika memiliki konsentrasi tertinggi dari kelenjar getah bening di mesenterium, dan (3) pembesaran kelenjar getah bening sering dijumpai pada pasien yang memerlukan operasi. Apakah Peyer patch yang membesar adalah reaksi terhadap intususepsi atau sebagai penyebab intususepsi, masih tidak jelas.

2. Kausal
Pada penderita invaginasi  yang lebih besar (lebih dua tahun), adanya kelainan usus dapat menjadi penyebab invaginasi atau “lead point” seperti: inverted Meckel’s diverticulum, polip usus, leiomioma, leiosarkoma, hemangioma, blue rubber blep nevi, lymphoma dan duplikasi usus.  Divertikulum Meckel adalah penyebab paling utama, diikuti dengan polip seperti peutz-jeghers syndrome, dan duplikasi intestinal. Lead point lain diantaranya lymphangiectasias, perdarahan submukosa dengan Henoch-Schönlein purpura, trichobezoars dengan Rapunzel syndrome, caseating granulomas yang berhubungan dengan tuberkulosis abdominal.
Lymphosarcoma sering dijumpai sebagai penyebab invaginasi pada anak yang berusia di atas enam tahun. invaginasi dapat juga terjadi setelah laparotomi, yang biasanya timbul setelah dua minggu pasca bedah, hal ini terjadi akibat gangguan peristaltik usus, disebabkan manipulasi usus yang kasar dan lama, diseksi retroperitoneal yang luas dan hipoksia local.

2.1.4.   Klasifikasi
Jenis Invaginasi dapat dibagi menurut lokasinya pada bagian usus mana yang terlibat, pada ileum dikenal sebagai jenis ileo-ileal.
Pada kolon dikenal dengan jenis colo-colica dan sekitar ileo-caecal disebut ileocaecal, jenis-jenis yang disebutkan di atas dikenal dengan invaginasi tunggal dimana dindingnya terdiri dari tiga lapisan.
Jika dijumpai dinding yang terdiri dari lima lapisan, hal ini sering pada keadaan yang lebih lanjut disebut jenis intususepsi ganda, sebagai contoh adalah jenis ileo-ileo-colica atau colo-colica. Suwandi J.Wijayanto E. di Semarang selama 3 tahun (1981-1983) pada pengamatannya mendapatkan jenis intususepsi sebagai berikut: Ileo-ileal 25%, ileo-colica 22,5%, ileo-ileo-colica 50% dan colo-colica 22,5%.

Gambar 1: Gambaran intraoperative invaginasi ileocolica
Gambar 2: Gambaran intraoperative invaginasi ileoileal

2.1.5.   Gejala Klinis
Pada kasus-kasus yang khas, nyeri kolik hebat yang timbul mendadak, hilang timbul, sering kumat dan disertai dengan rasa tersiksa yang menggelisahkan serta menangis keras pada anak yang sebelumnya sehat. Pada awalnya, bayi mungkin dapat dihibur tetapi jika invaginasi tidak cepat di reduksi bayi menjadi semakin lemah dan lesu. Akhirnya terjadi keadaan seperti syok dengan kenaikan suhu tubuh sampai 41 C, nadi menjadi lemah-kecil, pernafasan menjadi dangkal, dan nyeri dimanifestasikan hanya dengan suara rintihan. Muntah terjadi pada kebanyakan kasus dan biasanya pada bayi lebih sering pada fase awal. Pada fase lanjut, muntah disertai dengan empedu, tinja dengan gambaran normal dapat dikeluarkan pada beberapa jam pertama setelah timbul gejala kemudian pengeluaran tinja sedikit atau tidak ada, dan kentut jarang atau tidak ada. Darah umumnya keluar pada 12 jam pertama, tetapi kadang-kadang tidak keluar sampai 1-2 hari. Pada bayi 60% mengeluarkan tinja bercampur darah berwarna merah serta mucus.
2.1.6.   Patofisiologi
Invaginasi paling sering adalah ileo-colica, diikuti ileo-ileocolica, colo-colica, dan appendical-colica. Bagian atas usus yang disebut intususeptum mengalami invaginasi ke bawah, intususipiens sambil menarik mesentriumnya bersama-sama memasuki lumen yang pembungkusnya. Pada mulanya terdapat suatu konstriksi mesentrium sehingga menghalangi aliran balik vena, selanjutnya terjadi pembengkakan invaginasi terjadi akibat edema dan perdarahan mukosa yang menghasilkan tinja mengandung darah, kadang–kadang mengandung mukus (lendir). Puncak dari invaginasi dapat terbentang hingga kolon tranversum desendens dan sigmoid bahkan ke anus pada kasus yang terlantar. Setelah suatu invaginasi idiopatis dilepaskan, maka bagian usus yang membentuk puncaknya tampak edema dan menebal, sering disertai suatu lekukan pada permukaan serosa yang menggambarkan asal dari kerusakan tersebut. Kebanyakan invaginasi tidak menimbulkan strangulasi usus dalam 24 jam pertama, tetapi selanjutnya mengakibatkan gangren usus dan syok.

2.1.7.   Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis invaginasi didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium dan radiologi.

Gejala klinis yang menonjol dari invaginasi adalah suatu trias gejala yang terdiri dari:
1.      Nyeri perut yang datangnya secara tiba-tiba, nyeri bersifat hilang timbul. Nyeri menghilang selama 10-20 menit, kemudian timbul lagi serangan baru.
2.      Teraba massa tumor di perut bentuk curved sausage pada bagian kanan atas, kanan bawah, atas tengah, kiri bawah atau kiri atas.
3.      Buang air besar campur darah dan lendir yang disebut red currant jelly stool.
Bila penderita terlambat memeriksakan diri, maka sukar untuk meraba adanya tumor, oleh karena itu untuk kepentingan diagnosis harus berpegang kepada gejala trias invaginasi Mengingat invaginasi sering terjadi pada anak berumur di bawah satu tahun, sedangkan penyakit disentri umumnya terjadi pada anak-anak yang mulai berjalan dan mulai bermain sendiri maka apabila ada pasien datang berumur di bawah satu tahun, sakit perut yang bersifat kolik sehingga anak menjadi rewel sepanjang hari/malam, ada muntah, buang air besar campur darah dan lendir maka pikirkanlah kemungkinan invaginasi.
The Brighton Collaboration Intussuseption Working Group mendirikan sebuah diagnosis klinis menggunakan campuran dari kriteria minor dan mayor. Strasifikasi ini membantu untuk membuat keputusan berdasarkan tiga level dari pembuktian untuk membuktikan apakah kasus tersebut adalah invaginasi.
1.    Kriteria Mayor
1.    Adanya bukti dari obstruksi usus berupa adanya riwayat muntah hijau, diikuti dengan distensi abdomen dan bising usus yang abnormal atau tidak ada sama sekali.
2.    Adanya gambaran dari invaginasi usus, dimana setidaknya tercakup hal-hal berikut ini: massa abdomen, massa rectum atau prolaps rectum, terlihat pada gambaran foto abdomen, USG maupun CT Scan.
3.    Bukti adanya gangguan vaskularisasi usus dengan manifestasi perdarahan rectum atau gambaran feses “red currant jelly” pada pemeriksaan “Rectal Toucher“.
2.    Kriteria Minor
1.    Bayi laki-laki kurang dari 1 tahun
2.    Nyeri abdomen
3.    Muntah
4.    Lethargy
5.    Pucat
6.    Syok hipovolemi
7.    Foto abdomen yang menunjukkan abnormalitas tidak spesifik. 
Berikut ini adalah pengelompokkan berdasarkan tingkat pembuktian, yaitu :
1.      Level 1 – Definite (ditemukannya satu kriteria di bawah ini)
1.      Kriteria Pembedahan – Invaginasi usus yang ditemukan saat pembedahan
2.      Kriteria Radiologi – Air enema atau liquid contrast enema menunjukkan invaginasi dengan manifestasi spesifik yang bisa dibuktikan dapat direduksi oleh enema tersebut.
3.      Kriteria Autopsi – Invagination dari usus
2.      Level 2 – Probable (salah satu kriteria di bawah)
1.      Dua kriteria mayor
2.      Satu kriteria mayor dan tiga kriteria minor
3.      Level 3 – Possible
Empat atau lebih kriteria minor 
  1. Pemeriksaan Penunjang
    1. Pemeriksaan Laboratorium.
Meskipun hasil laboratorium tidak spesifik untuk menegakkan diagnosis invaginasi, sebagai proses dari progresivitas, akan didapatkan abnormalitas elektrolit yang berhubungan dengan dehidrasi, anemia dan atau peningkatan jumlah leukosit (leukositosis >10.000/mm3).
    1. Pemeriksaan Radiologi
      1. Foto polos abdomen
Didapatkan distribusi udara di dalam usus tidak merata, usus terdesak ke kiri atas, bila telah lanjut terlihat tanda-tanda obstruksi usus dengan gambaran “air fluid level”. Dapat terlihat “free air” bila terjadi perforasi.
Literatur lain menyebutkan bahwa foto polos hanya memiliki akurasi diagnostik 45% untuk menegakkan diagnosis invaginasi sehingga penggunaannya tidak diindikasikan jika ada fasilitas USG.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hooker et al tahun 2008 dalam Radiographic Evaluation of Intussusception, tampilan foto polos abdomen dengan posisi left side down decubitus meningkatkan kemampuan untuk diagnosis atau menyingkirkan invaginasi.
2.      Barium enema
Dikerjakan untuk tujuan diagnosis dan terapi, untuk diagnosis dikerjakan bila gejala-gejala klinik meragukan. Pada barium enema akan tampak gambaran cupping, coiled spring appearance.

3.      Ultrasonografi Abdomen
Penggunaan USG abdomen untuk evaluasi invaginasi pertama kali digambarkan pada tahun 1977. Sejak itu, banyak institusi yang mengadopsi penggunaannya sebagai alat skrining karena tidak adanya paparan radiasi dan rendah biaya. Invaginasi biasanya ditemukan di sisi kanan abdomen.
Pada tampilan transversal USG, tampak konfigurasi usus berbentuk ‘target’ atau ‘donat’ yang terdiri dari dua cincin echogenisitas rendah yang dipisahkan oleh cincin hiperekoik, tidak ada gerakan pada donat tersebut dan ketebalan tepi lebih dari 0,6 cm. Ketebalan tepi luar lebih dari 1,6 cm menunjukkan perlunya intervensi pembedahan. Pada tampilan logitudinal tampak pseudokidney sign yang timbul sebagai tumpukan lapisan hipoekoik dan hiperekoik.
Pemeriksaan USG selain sebagai diagnostik, juga dapat digunakan untuk membantu mendiferensiasikan tipe dari intususepsi. Park et al (2007) melaporkan bahwa invaginasi transien dari usus kecil lebih sering terlokalisir pada kuadran kanan bawah atau region periumbilikal, memiliki diameter anteroposterior yang lebih kecil (1,38 cm vs 2,53 cm), memiliki garis luar yang lebih tipis (0,26 cm vs 0,53 cm), dan tidak memiliki nodus limfatikus, dimana berbanding terbalik dengan intususepsi ileocolic.
Sebuah studi oleh Munden et al (2007) mendukung penemuan ini, dengan diameter anteroposterior rata-rata adalah 1,5 cm pada intususepsi ileoileal dan 3,7 cm pada intususepsi ileocolic dan panjang rata-ratanya berkisar 2,5 cm dan 8,2 cm secara respektif.
2.1.8.   Diagnosa Banding
a. Gastroenteritis, bila diikuti dengan intususepsi dapat ditandai jika dijumpai perubahan rasa sakit, muntah dan perdarahan.
b. Divertikulum Meckel, dengan perdarahan, biasanya tidak ada rasa nyeri.
c. Disentri amoeba, disini diare mengandung lendir dan darah, serta adanya obstipasi, bila disentri berat disertai adanya nyeri di perut, tenesmus dan demam.
d. Enterokolitis, tidak dijumpai adanya nyeri di perut yang hebat.
e. Prolapsus recti atau Rectal prolaps, dimana biasanya terjadi berulang kali dan pada colok dubur didapati hubungan antara mukosa dengan kulit perianal, sedangkan pada intususepsi didapati adanya celah.

2.1.9    Penatalaksaan
Penatalaksaan dapat dilakukan dengan reposisi barium enema dan reposisi operatif :
1.      Pertama kali dibawa ke rumah sakit, bayi kemungkinan mengalami dehidrasi dan memerlukan terapi cairan intravena secepatnya. Nasofaringeal Tube bisa digunakan pada bayi dengan perut yang kosong. Dehidrasi ringan 6 % sedang  8 % berat 10%. Kemudian di pantau urine outputnya per 1 jam .
2.      Reduksi invaginasi dilakukan dengan barium enema yang menggunakan prinsip hidrostatik. Reduksi dengan barium enema hanya dilakukan bila tidak ada distensi yang hebat, tanda peritonitis, dan demam tinggi. Akan tampak gambaran cupping dan coiled spring yang menghilang bersamaan dengan terisinya ileum oleh barium. Reduksi dengan barium enema dikatakan berhasil bila sudah mencapai ileus terminal.
3.      Selain barium enema, terdapat reduksi manual pada operasi. Reduksi ini dilakukan bila terjadi perforasi, peritonotis dan tanda- tanda obstruksi dan biasanya pada invaginasi yang sudah berlangsung 48 jam.
4.      Kebanyakan anak yang dirawat sebelum dari 24 jam sembuh dari invaginasi tanpa komplikasi. Dalam 48 jam setelah operasi anak akan dimonitor, anak akan menggunakan mesin untuk memonitor temperatur, denyut jantung dan respirasi. Setidaknya selama 48 jam pertama, anak tidak bisa makan atau minum agar ususnya istirahat. Anak akan mendapatkan terapi cairan untuk mencegah dehidrasi. Anak juga akan mendapat Nasofaringeal Tube untuk mengambil cairan di dalam perut. Saat cairan dari Nasofaringeal Tube bersih dan jumlah cairan berkurang, anak bisa mulai makan sesuatu.

























BAB III
LAPORAN KASUS
3.1.      Anamnesis
Identitas Pribadi
Nama                                      : Edward
Jenis Kelamin                         : Laki-laki
Usia                                        : 18 Tahun
Alamat                                    : Jln. P Poelem dusun amaliah Gampoeng Jawa kota Langsa
Status                                     : -
Pekerjaan                                : -
Tanggal Masuk                       : 31 Januari 2015

3.2.      Riwayat Perjalanan Penyakit
Keluhan Utama           : Tidak dapat Buang air Besar
Telaah                          :Hal ini dialami os sejak 7 hari sebelum masuk RS HAM. Pasien tidak  buang angin sejak 4 hari SMRS. Tidak ada perubahan pola dan bentuk defekasi. Riwayat mual muntah (+), sejak 2 hari SMRS.Tidak ada riwayat operasi sebelumnya dan tidak ada demam. Sebelumnya pasien pernah dirawat di RS lain sebelum dirujuk ke HAM
RPO    : Tidak jelas
RPT     : Tidak jelas



v Status Presens :
     Tekanan darah                      : 120 /80 mmHg
     Frekuens inadi                      : 90 kali/menit
     Frekuensi nafas                    : 20 kali/menit
     Temperature                         : 37,0 C

v Status Lokalisata
     Kepala : Mata                       : Konjungtiva palpebra inferior pucat (+/+),sclera ikterik (-/-)
     Telinga/ Mata/ Hidung         : Dalambatas normal
     Leher                                    : Tidak dijumpai pembesaran kelenjar getah bening
     Thoraks
                I                                 : Simetris Fusiformis
                P                                : Strem fremitus kanan = kiri
                P                                : Sonor pada kedua lapangan paru
               A                                : SP :Vesikuler
                                                  ST : -
     Abdomen
              I                                   : Simetris, membesar ,Darm contour (-)
              P                                  : Soepel, Defens muscular (+), Nyeri seluruh lapangan perut
              P                                  : Hipertympani
              A                                 : Peristaltik usus meningkat
    
     Ekstremitas                          : Superior :tidak dijumpai kelainan
                                                   Inferior   : tidak dijumpai kelainan
     Genitalia                               : Tidak dijumpai kelainan
v DRE
     Perineum normal, tonus spicter ani ketat, mukosa lunak, Ampula recti : kolaps, feces(-).           Hand gloves feces (-), darah (+), and mucous (-) .

3.3. Tatalaksana di IGD
      Puasa
      IVFD RL 20 gtt/i
      Pasang NGT-à keluar cairan lambung berwarna hijau
      Pasang kateter urin--à urin kuning
      Cek darah lengkap
      Foto thoraks AP erect
      Foto abdomen supine
      Foto abdomen erect

3.4.Pemeriksaan Laboratorium (31/01/2015)
      Hb                               : 14,7 g/dl                               
      Ht                                : 41,9 %                      
      Leu                              : 21,3 103/mm3
      Eritrosit                       : 5,02 103/mm3
      Tromb                          : 324.000/mm3
      Na/K/Cl                       : 131/4,0/102
      KGD ad random         : 89 mg/dl
      Albumin                      : 2,9 g/dl

3.5.  Pemeriksaan Foto
            Foto thoraks PA erect
Kesan :Tidak ditemukan kelainan
           


            Foto abdomen supine
Kesan :dilatasi small bowel, large bowel tidak terlihat

Foto abdomen erect
Kesan : Multiple step leader (+)

3.6. Diagnosis fungsional           :Susp. Invaginasi
3.7. Rencana tindakan              : Eksplorasi Laparotomy

Follow Up

Tgl

S

O

A

P
01–02 - 2015

HD Stabil
Post explorasi laparatomy + post ileoileal massif end to end ieoileal anestomous  due to invaginasi
Diet TPN 3 hari
IVFD Kaen 3B 20 gtt/i
IVFD Aminopusin 1 fls/hr
IVFD Dex 5% (2 fls) + Dex 40% (5fls) 20gtt/i
IVFD Ivelip 20 gtt/i
Inj Ceftriaxone 18/12jam
Inj Metronidazole 500 mg
Inj Ranitidin 50 mg/12jam
Inj Ketorolac 30mg/8jam

02-02-2015
HD Stabil
Luka Oprasi kering ( tertutup perban)
Post explorasi laparatomy + post ileoileal massif end to end ieoileal anestomous  due to invaginasi

Diet TPN hari ke 4
IVFD Kaen 3B 20 gtt/i
IVFD Aminopusin 1 fls/hr
IVFD Dex 5% (2 fls) + Dex 40% (5fls) 20gtt/i
IVFD Ivelip 20 gtt/i
Inj Ceftriaxone 18/12jam
Inj Metronidazole 500 mg
Inj Ranitidin 50 mg/12jam
Inj Ketorolac 30mg/8jam
Acc pindah Ruangan
03-02-2015
 HD Stabil
Luka Oprasi kering ( tertutup perban)

Post explorasi laparatomy + post ileoileal massif end to end ieoileal anestomous  due to invaginasi

Diet TPN hari ke 5
IVFD Kaen 3B 20 gtt/i
IVFD Aminopusin 1 fls/hr
IVFD Dex 5% (2 fls) + Dex 40% (5fls) 20gtt/i
IVFD Ivelip 20 gtt/i
Inj Ceftriaxone 18/12jam
Inj Metronidazole 500 mg
Inj Ranitidin 50 mg/12jam
Inj Ketorolac 30mg/8jam
04-02-2015


Post explorasi laparatomy + post ileoileal massif end to end ieoileal anestomous  due to invaginasi
Diet TPN hari ke 6
IVFD Kaen 3B 20 gtt/i
IVFD Aminopusin 1 fls/hr
IVFD Dex 5% (2 fls) + Dex 40% (5fls) 20gtt/i
IVFD Ivelip 20 gtt/i
Inj Ceftriaxone 18/12jam
Inj Metronidazole 500 mg
05- 02-2015
HD Stabil

Post explorasi laparatomy + post ileoileal massif end to end ieoileal anestomous  due to invaginasi
IVFD Kaen 3B 20 gtt/i
IVFD Aminopusin 1 fls/hr
IVFD Dex 5% (2 fls) + Dex 40% (5fls) 20gtt/i
IVFD Ivelip 20 gtt/i
Inj Ceftriaxone 18/12jam
Inj Metronidazole 500 mg











BAB IV
TEORI DAN PEMBAHASAN

Teori
Kasus
Invaginasi umumnya terjadi pada anak di bawah 1 tahun. . Di Afrika, insiden puncak invaginasi muncul antara usia 3-8 bulan. Di Asia, insiden puncak antara usia 4-8 bulan. Berdasarkan jenis kelamin, laki – laki paling banyak mengalami invaginasi dimana rasio laki – laki dan untuk wilayah Asia 9 : 1.
Pada pasien ini berusia 18 tahun.
Pada gejala klinis biasanya dijumpai nyeri kolik abdomen, anak menangis tiba-tiba, keluar darah bercampur lendir “red recurrent jelly”, muntah, diare, dan banana like mass
Pasien tidak  buang angin sejak 4 hari SMRS. Tidak ada perubahan pola dan bentuk defekasi. Riwayat mual muntah (+), sejak 2 hari
Meskipun hasil laboratorium tidak spesifik untuk menegakkan diagnosis invaginasi, sebagai proses dari progresivitas, akan didapatkan abnormalitas elektrolit yang berhubungan dengan dehidrasi, anemia dan atau peningkatan jumlah leukosit (leukositosis >10.000/mm3).

Didapatkan distribusi udara di dalam usus tidak merata, usus terdesak ke kiri atas, bila telah lanjut terlihat tanda-tanda obstruksi usus dengan gambaran “air fluid level”. Dapat terlihat “free air” bila terjadi perforasi.
Pada foto abdomen erect dijumpai kesan multiple air fluid level

Penatalaksanaan awal pada invaginasi adalah : puasa, pemasangan infus, dekompresi, pemberian antibiotik, dan resusitasi cairan
Pada pasien ini hanya diberikan puasa, pemasangan infus, dan pemberian antibiotik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar