Sabtu, 01 Juni 2013

Percakapan AKU dan HATI

Hari ini aku bercanda lagi dengan hati.

“Aku liat banyak hati yang terluka, tapi tak sendiri. Mana pasanganmu? Siapa yang menjagaimu?”
Sepertinya hati ingin tertawa melihatku bertanya seperti itu.

“Jika belum siap, untuk apa mengundang penghuni yang nantinya menyakiti?”

“Jadi kamu lebih memilih ‘sendiri’ dibanding ‘berdua’?”

“Bukan itu persoalannya. Entah sendiri atau berdua, intinya sudah bisakah berbahagia meramu cinta? Tentang mereka yang tak sendiri, sudahkah menyicipi cinta yang sederhana, atau malah tergulung rumitnya drama yang tak habis-habisnya? Aku bahagia begini, perjalanan menemukan dan ditemukan itu menarik. Memang lebih bahagia jika nanti ada yang mengisi kekosonganku dan melipatgandakan bahagia yang ada. Jika ada, dia itu mungkin calon penghuniku.”

 “Rasanya jawabanmu tangguh sekali, tak seperti tubuhmu.”

“Sebenarnya semua hati itu kuat. Jika sesekali mereka terlihat lemah, mungkin karena mereka tak berusaha mencari pintu menuju rumah kekuatannya. Kamu hanya tidak tahu saja, seberapa kuat aku dan mereka.”

“Sekuat itu? Jika ada hati lain yang melemahkanmu, apakah ia berarti lebih kuat?”

“Tidak juga. Terkadang aku memberi mereka peluang untuk tereliminasi dari calon-calon penghuni, daripada meneruskan arah memberikan sebuah ruang.”

“Lagi-lagi perihal kemauanmu dan lagi-lagi tentang konsekuensi nanti.”

“Bukankah memang seharusnya semua hati seperti itu? Hati-hati menjatuhkan diri, hati-hati mempersilahkan penghuni masuk, hati-hati menjaga diri.”

“Pernah kau tak hati-hati?” 

“Sering. Tapi itu sebuah pelajaran kan? Kadar hati-hati para hati akan meningkat seiringnya mereka tak berhati-hati. Setidaknya aku lebih bijaksana dalam melihat segalanya setelah jatuh terpecah-belah.”

“Ya, aku ingat. Tentang beberapa calon penghuni masa lalumu. Nama-nama mereka rasanya ringan terdengar, tak seberat dulu ya? Seiring berjalannya waktu aku melepas, lega itu mulai terhempas. Aku mendewasa, termasuk juga kamu."

“Firasat tentang akhir dengan objek pujaanmu, selalu tiba tepat waktu. Aku mendengungkannya sampai terdengar gema. Tapi sering kau mengacuhkanku. Padahal jika kamu memekakan telinga, semuanya akan berjalan baik-baik saja.
Tapi seperti hukum semesta, semua tidak akan pernah berjalan baik-baik saja. Namun, kau akan tetap baik-baik saja pada akhirnya.”


“Maaf hati, jika sering menutup telinga demi segala kesenangan sementara. Maaf hati, jika lagi-lagi aku mengijinkanmu dilukai berkali-kali. Maaf untuk setiap ketidakpekaan. Maaf…”

“Maafmu seharusnya adalah karena terlalu banyak mengucapkan maaf.”Tersenyumlah hati, karena kita akan bekerja sama membangun cinta. Rumah yang selama ini kita puja puja

posted from Bloggeroid

Senin, 08 April 2013

BERAKHIR

Selesai.

Satu kata yang kukira adalah akhir dari segala kita. Satu kata yang nyatanya memberi bukti bahwa masih ada yang mustahil usai; namanya kenangan.

Kenangan ialah sisa-sisa ingatan yang mengakar hingga dada, masih menganggap kamu di sana. Kenangan ialah samar-samar harum tubuhmu diembus udara, masih mengira kamu tak ke mana-mana. Kenangan ialah yang menyiksa aku; yang meminta aku terus menengok ke arah yang semula ada kamu. Kenangan begitu nakal. Ia mematenkan kaki-kakinya untuk berdiam di ingatanku kekal. Mungkin ini sebuah hukuman dari kenangan. Karena dulu, air mata yang terjatuh dari pipimu selalu disebabkan oleh aku. Karena dulu, tawamu yang menyuarakan nada-nada bahagia sempat tertahan oleh keegoisanku. Karena dulu, kesalahan terfatalku adalah membiarkanmu berlalu. Hilang di makan waktu mencintai pria baru. Itu salahku, dan mungkin karma jadi makananku.

Sepayah itulah aku tak bisa menjaga ‘kita’. Sekuat itu pun juga kamu telah berusaha. Sampai hentakkan semesta menyadarkan bahwa kita tak bisa lagi seperti semula.

Terpejam mataku meninabobokan kesedihan, sementara menghindarkan aku dari kesesakkan. Namun nyatanya kedua mata yang terbuka di esok hari, menyadarkan bahwa kamu tidak lagi di sisi. Tinggi hati, kuhalangi air mata yang ingin mengalir melewati pipi. Meski secara sembunyi-sembunyi, baru aku berani mengakui bahwa aku masih mengharapkan kita untuk kembali. Salahku, mengapa dulu tidak piawai dalam menggenggam. Salahku, mengapa dulu memilih untuk diam. Salahku, mengapa dulu seakan melepasmu pergi. Sesal memang sesak. Yang tersisa hanya letup-letup kecewa namun tak mungkin membawaku ke pelukanmu yang semula. Sebelum aku benar-benar selesai menghitung langkah mundur dan mulai berjalan ke hadapan, kuingin lihat senyummu untuk terakhir kali. Senyum yang tercipta karena aku, bukan karena lelaki yang kini di sampingmu. Bolehkah? Semoga keputusanku untuk memutar arah dan melanjutkan langkah tak akan berubah.

Meski di masa depan aku tak tahu akan terjadi apa, kuharap kamu sudah kurelakan sepenuhnya. Kuharap kelak aku hanya akan mengingatmu sebagai yang indah-indah saja. Kamu masih tetap cantik. Kenangan tentangmu pun akan kujaga pada lemari memori, tertata antik. Kadang memang masih terasa sakit saat kedua telinga tak sengaja diperijinkan mendengar cerita tentangmu yang kini telah berdua.
Tapi kuharap, sesal itu tak seperti rel yang mengiringi kemanapun roda-rodaku pergi. Aku ingin memindahkan perasaan ini pelan-pelan. Ke perempuan yang tepat tentunya. Melalui kamu, aku tahu cara menjaga hati. Melalu kamu aku pun tahu bagaimana rasanya sebuah ‘penyesalan’. Jika telah datang nanti perempuan istimewaku, takkan kulakukan pengulangan perlakuan.

Kini langkah kaki dan logika sepemikiran ingin melaju ke depan. Sementara kamu, tetap indahlah dalam kenangan. Sebagai sesuatu yang selama ini sudah banyak memberikan pelajaran. Sedangkan aku, mencoba memulai kembali dari sepanjang perjalanan yang sudah terlewati.
Di penghujung jalan nanti, semoga tidak akan ada kesalahan kedua. Semoga tidak akan kuakhiri lagi segala usaha dan air mata dengan begitu sia-sia. Semoga tidak akan ada lagi senyuman manis yang menjadi korban. Sebab satu penyesalan lamban untuk lenyap, sedangkan seribu pengalaman tak akan juga cukup.

posted from Bloggeroid

Rabu, 03 April 2013

terHENTI

Pada pertukaran rasa yang tak seimbang, aku menaruh bimbang. Ketika meneruskan hanyalah berarti menambah perih pada luka lainnya, dan berhenti juga tak menyembuhkan apa-apa. Menaruh harap pada waktu yang akan menjawab, mungkin saja percuma; sebab hatimu sudah ada pemiliknya.
Sedangkan aku, hanya tamu yang  diundang pada sedikit kesempatan saja. Belum genap memiliki, tapi hati ini seperti dipaksa berhenti mencintai. Harapan sudah mencapai menara tertinggi, tapi terjatuh karena tahu kau sudah ada yang memiliki.
Kornea seperti tercelik pada realita. Tadinya pinta bergegas menyapa pencipta agar lekas menyatukan kita. Tapi doa-doa itu menabrak dinding negri utopia, menyadarkanku bahwa seharusnya angan-angan berhenti disini saja agar tak menyakiti sesiapa. Andai pertemuan kita tak berbentur pada garis segitiga yang menyatukan aku, kamu, lalu dia pada sudut-sudutnya. Pada ketiba-tibaan datangnya sebuah rasa, aku memupuk asa. Seakan tidak peduli, bahwa bagian kosong di hatimu sudah ada yang menduduki.
Juga tak ingin ambil pusing dengan kenyataan yang mengharuskan kita berada pada jalannya masing-masing. Mungkin sebenarnya ada garis tak kasat mata yang menghalangi agar aku tidak melangkah lebih jauh lagi. Namun aku memilih untuk berpura-pura tidak menyadari keberadaanya.

posted from Bloggeroid

Sabtu, 30 Maret 2013

perTEMUan yang SALAH

Awalnya rindu, tapi tak sedikitpun kabar tentangmu mampir ke telingaku. Bagaimana tidak rindu? Nyaris tujuh hari dalam seminggu, sepasang mata ini melihat sosoknya berhadapan di ruang temu. Aku menyingkirkan gengsi yang sudah sedari tadi bilang permisi, karena aku memikirkan hati. Jadi secepat tupai melompat aku mencari ke setiap tempat terdekat dimana aku bisa menemukanmu tiba-tiba lewat.

Perlahan-lahan mata pun mencari objeknya. Tapi ia lupa, justru disitulah terlahir luka. Jari beraksi seperti taksi membawa aku ketempat dimana segala kata dalam percakapanmu terasa istimewa buatnya. Mata pun jadi saksi, kini posisiku mulai terganti. Dari yang ada hadirnya terasa, kini menghilang dalam setiap ruang. Seketika kecewa mengudara, terjadilah unjuk rasa. Aku tau segalanya akan berujung pada sakit hati. Seandainya bisa meredam mata dan jemari untuk tak mulai mencari.Tapi sepertinya jika soal dirinya, mata dan jemari punya seribu kaki untuk berlari mencari.

Buat apa menemukan, jika luka yang kau temukan. Buat apa mencari jika sesampainya disana kau hanya bisa gigit jari meratapi? Buat apa bertemu kalau yang kau lihat hanya tubuhnya saja? Mungkin, segala sifat dan jiwanya terbang diculik makhluk luar angkasa. Seandainya bisa memesan kau yang dulu pada Tuhan. Karena bertemu bukan solusi untuk mematikan rindu.

posted from Bloggeroid

Kamis, 28 Maret 2013

Jawaban itu disekitar kita

“Ketika kamu memikirkan sesuatu, cari jawabannya di sekitarmu.”


and this one,Kadang jawaban atas apa yang kita pikirkan itu bertebaran, hanya kita saja yang kadang pura-pura tutup mata belum menemukan. Sama dengan pemikiran yang dihadapi kepala ini dari tadi. Kadang pesimis menyelinap berkali-kali menyamar jadi sesuatu yang tak kita kenali. Kadang tak percaya diri juga awal dari kekalahan diri untuk berdiri.
Muncul sendiri, tanpa permisi tapi sebenarnya bisa diatasi dengan kendali diri. Saya belakangan ini gak ngerti arah tujuan. Belakangan ini merasa cuma ikut alur doang. Belakangan ini seperti nyerah duluan sebelum kenal permasalahan.
Padahal, masalah itu ada untuk diselesaikan. Bukan diajak lari-larian lalu berusaha tidak memikirkan.
Beberapa kutipan diatas gak sengaja saya temukan, lalu saya langsung ngerti segala maksud tujuan belakangan ini uring-uringan. Saya percaya, Tuhan menitipkan sesuatu yang istimewa dalam diri kita semua. Ada kekuatan untuk mengatasi masalah, bukan kekuatan untuk menyerah. Meskipun belum terpikirkan bagaimana caranya, tapi yang penting hanya percaya dan usaha.
Apa yang kita pikirkan hanya sebatas pikiran manusia biasa. Tapi jika mengandalkan Tuhan dan percaya pada diri sendiri pasti kita akan melewati ujian-ujian ini.I believe in my self and God. Yes! :’)

posted from Bloggeroid

Senin, 25 Maret 2013

SEPI

Sepi adalah ramaimu yang mendadak pergi.

Sepi adalah tempat dimana aku tanpamu menepi.

Sepi adalah tujuh hari tanpa langkah kakimu menghampiri.

Sepi adalah melepaskan setiap memori tentangmu dari kepala ini.

Sepi adalah gema hati yang memberisikan diri, meronta-ronta agar kau jangan pergi.

Sepi adalah bagian molekul hati yang melepaskan diri mencari pengganti.

Sepi adalah tak ada ponsel berbunyi pertanda kau tak menelepon dini hari.

Sepi adalah ketika ia tiba bukan denganku tapi dengan perempuannya.

Sepi adalah makanan paling hambar yang pernah kucicipi.Sepi adalah ketika dalam hatimu aku sudah terganti.

Sepi adalah lama, tanpa, dan hampa.

Aku tak ingin merasakannya.

posted from Bloggeroid

Rabu, 06 Maret 2013

I Find You

Kini, hati sudah tak terpenjara oleh luka. Pemasok luka bertukar kerja dengan pemasok bahagia. Tak ada yang terlalu lama untuk mempertahankan, tak ada juga yang terlalu cepat untuk melepaskan. Karena waktulah yang menentukan ketepatan. Jika kini aku sudah bisa melepas, mungkin Tuhan sudah menyiapkan seorang yang pas. Mungkin kamu orangnya, mungkin kamu pemegang kunci hatiku yang baru dan mungkin kamu calon pemilik hatiku. Aku tidak sedang menerka-nerka, tapi sedang melahirkan cinta agar terbiasa. Seperti senyuman yang nantinya akan kau sponsorkan. Seperti ada seribu kupu-kupu di dalam perutku ketika mata kita beradu. Mungkin seperti itu.



Mulanya aku sulit untuk menerima, sebab batin terlanjur luntur rasa percayanya pada cinta. Aku takut untuk mulai membuka hati, namun lebih takut lagi jika kelak tak terobati lagi luka ini. Lalu kamu datang. Seperti kunang-kunang benderang ketika gelap malam menjelang. Kamu begitu sabar mengetuk pintu di dada. Seperti memanggil cinta itu dari tiada menjadi ada. Sungguh hangat terasa, ketika adamu melipur lara. Semoga ini bukan untuk sementara, yang aku ingin ini tak ada habisnya. Pada awalnya aku takut jatuh dan sama sekali tidak menemukan tangan untuk kurengkuh. Aku takut menggantungkan perasaan, namun malah berakhir dengan bertepuk sebelah tangan. Aku takut menitipkan hati lalu kemudian justru tersakiti. Namun di saat aku benar-benar menunggu datangnya kebahagiaan, kamu didatangkan oleh Tuhan. Mungkin karena itulah aku kemudian menetapkan kamu, semoga rasa kita kelak akan saling temu.



Mencintai kadang memang harus menunggu. Menunggu seseorang yang tepat, menunggu jalan terbuka agar tak tersesat, menunggu waktu yang seringkali mengajak debat. Sebelumnya mungkin ada luka yang tak kasat mata di dalam dada. Aku pun sempat kehilangan rasa percaya bahwa hati ini juga berhak bahagia. Sampai akhirnya sosokmu datang di duniaku, semesta pikiranku. Dirimu bukanlah sosok sempurna yang memiliki segala. Kau itu satu yang Tuhan hadirkan untukku, yang membuatku percaya bahwa dicintai bukan lagi hal yang semu.



Biarlah lewat kamu, cinta bisa bekerja tanpa diganggu.
Biarlah lewat aku, cinta bisa mengembalikan percaya yang telah layu. Biarlah lewat kita, cinta bisa menceritakan keahliannya. Biarlah lewat cinta, kita bisa sama-sama menggandakan bahagia. Biarlah segala rasa yang sedang mengantri tuk dicicipi menjadi saksi, bahwa kita memang ditakdirkan saling mencintai. Aku ingin pada kita cinta menjadi poros utama. Kemanapun menuju, akulah tujuanmu. Kemanapun kamu melangkah, ada aku di sisimu. Seberapa lama pun waktu akhirnya, semoga semesta memang menjodohkan kita dan luka takkan mendahului gerakan cinta untuk sampai ke tempat kita.


Banyak harapan kutitipkan pada Tuhan. Agar kita kelak mampu terus bertahan, seberat apapun cobaan yang datang di hadapan. Sebagian aku ada padamu, maka jagalah sepenuh hatimu. Sebagian kamu ada padaku dan percayalah, aku hanya berencana membagi bahagia ini denganmu. Kepada segala limpahan cinta yang datang seketika, ada hatiku yang tak akan mampu melepasnya. Tetaplah menjadi ‘kita’, jangan ada niat memisah. Tetaplah menjadi ‘kita’, buktikan padaku yang seperti apa yang kausebut dengan cinta. Tetaplah menjadi ‘kita’ dan tunjukkan pada dunia bagaimana pada akhirnya kita sanggup bahagia. Tetaplah menjadi ‘kita’ dan pada masing-masing, kita pelihara apa yang semestinya kita jaga.


Hatiku mungkin pernah patah. Langkahku tak jarang goyah dan kehilangan arah. Mencari jawaban di tengah hati yang hampa hanya menghasilkan bingung berkepanjangan. Rasanya seperti mencari gelap di tengah malam, lalu hanya kosong yang kutemukan. Kau mungkin tak sadar kalau hadirmu adalah penerang, yang menjelaskan pandanganku tentang gelap dan hitam, yang menuntunku pada satu jalan untuk menemukan jawaban, yang menunjukkan padaku kalau cinta itu mampu menyembuhkan. Aku ada untukmu, kau tercipta untuk melengkapkan aku. Dalam kebersamaan kita kebenaran cinta kurasa nyata. Kini biar Tuhan yang menentukan cerita dan kita yang menjaga ‘kita’.


Semoga cinta kita tak seperti segitiga bentuknya, yang menyelipkan sudut baru untuk dibagi cintanya. Tapi aku mau seperti lingkaran. Cinta berada di tengah mengedarkan, lalu kita berjalan pada garis yang tak terputuskan. Aku masih amatiran, biarkan hanya denganmu cinta mahir dijalankan. Lihatlah, cinta sudah melebihi sekarung gula. Betapa manis dan magisnya, ia menyihir aku yang terlalu bahagia menjelaskan rasa yang tiba-tiba ada. Ya namanya cinta, mengalirkan rasa sederhana dan segera menghadirkan sejuta cerita tentang kita.


Terima kasih untuk sebuah adamu yang mampu menuliskan cerita-cerita baru. Hati sepertinya tahu bagaimana bekerja seperti peta. Di perempatan waktu, dengan doa aku menunggu. Kepada satu-satunya tujuan rasaku, kuhadiahkan cinta ini untukmu. Semoga bagimu, akulah titik di kejauhan yang telah selesai kamu kejar, yang akan selalu membuat hatimu berdebar. Dan semoga bagiku, kamulah akhir yang tak pernah akan berakhir.

posted from Bloggeroid